Skip to main content

Posts

Kenapa Harus Hafalan?

Hafal .in - Sebenarnya hafalan itu penting atau gak sih menurut kamu? Mungk jawaban tiap orang macem-macem lah, ada yang bilang penting, ada yang bilang biasa saja, ada juga yang bilang gak penting-penting amat. Ayo kita coba kupas satu persatu tentang penting atau tidaknya hafalan itu jika ditinjau dari segi penulis. 1. Hafalan itu tidak penting Menurut sebagian orang mengatakan bahwa hafalan tidak penting karena hafal atau tidak hafal merupakan karakter bawaan seseorang dari jabang bayi. Artinya, jika suatu hal dirasa penting biasanya otak secara otomatis akan menjalankan peran untuk menghafal / menyimpan memori. Sehingga menghafal secara khusus tidak diperlukan karena hanya membebani otak manusia. 2. Hafalan kadang penting kadang tidak Beberapa orang menganggap bahwa proses menghafal terkadang diperlukan untuk menunjang daya ingat terhadap suatu hal yang dirasa cukup penting. Tanpa menghafal, tentu hal-hal yang bersifat penting, meskipun sudah masuk dalam memori otak terkadang ...

Tips Hafalan Ala Imam Syafi'i

Hafal.in - Siapa yang gak kenal Imam Syafi'i hayo? Beliau adalah sosok yang sangat dikagumi bahkan termasuk salah satu Imam Madzhab atau juga bisa disebut sebagai Mujtahid Mutlaq. Dalam sejarah telah tercatat betapa cerdas dan jeniusnya beliau, bahkan Al Qur'an sudah dihafal sejak masih kecil, Jutaan Hadits juga sudah tersimpan dalam memori otaknya, bahkan beliau lah pencetus metode Ushul Fikih. Namun di balik kejeniusannya tersebut, Imam Syafi'i terkadang masih merenungkan tentang sulitnya dalam menghafal ( padahal sudah hafal Qur'an, Jutaan Hadits kok masih mengeluh ya? hehehe ) sehingga Imam Syafi'i menceritakan kegundahannya tersebut kepada Gurunya, yaitu Syaikh Waqi'. Dalam sebuah sya'ir dituliskan: شكوت الى وكيع سوء حفظى  *  فأرشدنى الى ترك المعاصى Solusi mudah dalam menghafal ala Imam Syafi'i dari Gurunya yaitu: Tinggalkanlah Maksiat Baik dosa besar maupun dosa kecil kudu ditinggalkan semua ya. Melakukan Kebaikan Dengan menjalan...

Sab'aty : Kajian Lafadz يَرْضَهُ لَكُمْ Dalam Qira'at Sab'ah

Lafadz يَرْضَهُ لَكُمْ dalam surat Az-Zumar ayat 7 versi Sab’aty: Menurut Nafi’, Ashim, Hisyam dan Hamzah dengan membaca harakat dhummah pada huruf ha dengan tanpa shilah. Sedangkan Ibnu Katsir, Ibnu Dzakwan, Ali al-Kisa’I dengan membaca dhummah dan shilah (panjang 1 alif) sebagaimana bacaan pilihan khusus qiraat Ibnu Katsir yang membaca ha kinayah dengan panjang 1 alif atau 2 harakat. Namun menurut riwayat Susi dari Abu Amr dengan men-sukun-kan huruf ha pada lafadz يَرْضَهُ لَكُمْ, menjadi يَرْضَهْ لَكُمْ , Adapun riwayat Ad-Duri dari Abu Amr mempunyai 2 wajah, yaitu: a. Sukun Ha b. Dhummah ha dengan shilah 1 alif Referensi dari Kitab al-Qiraat al-Asyr al-Mutawatirah, Syeikh Alwi Ibnu Muhammad ahmad Balfaqih, Daar al-Muhaajir, Madinah al-Munawwaroh,

Sab'aty : Hikmah Qira'at Sab'ah

Hikmah diturunkannya Qiraat Sab'ah Qiraat sab’ah atau qiraat tujuh adalah cara membaca al-qur’an yang berbeda, disebut qiraat tujuh karena ada tujuh imam qiraat yang terkenal (masyhur) yang masing-masing memiliki langgam bacaan tersendiri.  Tiap imam qiraat memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi. tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca qur’an. sehingga ada empat belas cara membaca al-qur’an yang masyhur. Perbedaan cara membaca itu sama sekali bukan dibuat-buat, baik dibuat oleh imam qiraat maupun oleh perawinya. cara membaca tersebut merupakan ajaran rasulullah dan memang seperti itulah al-qur’an diturunkan. Dari umar bin khathab, ia berkata, “ aku mendengar hisyam bin hakim membaca surat al-furqon di masa hidup rasulullah. aku perhatikan bacaannya. tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. maka, aku m...

Sab'aty : Lafadz سلسلَا Dan Kajiannya Dalam Qira'at Sab'ah

Lafadz سلسلَا Versi Metode Sab'aty Menurut riwayat Hafas lafadz سلسلَا dalam tengah surat Al-Insan ayat 4 ini bisa dibaca dengan 2 wajah, yaitu: a. Jika dibaca washal (sambung), maka La nya dibaca pendek menjadi سلا سل b. Jika dibaca waqaf (berhenti), terbagi lagi menjadi 2 wajah, yaitu: b.1. Kalau mengikut pendapat Abu Amr, ketika berhenti maka La nya dibaca panjang menjadi سلسلا  b.2. Kalau mengikut pendapat Imam Qunbul dari Ibnu Katsir dan Hamzah, maka dibaca sukun menjadi سلسِلْ.  Selain Imam Hafash dari Ashim, pendapat diatas diikuti juga oleh Al-Bazzi dari Ibnu Katsir dan Ibnu Dzakwan dari Imam Ibnu Amir. Sementara pendapat lain dari imam qiraat sab'ah, yaitu:  Imam Nafi', Hisyam dari Ibnu Amir, Syu'bah dari Ashim, dan Ali al-Kisa'i, maka ketika washal La nya dibaca tanwin ًسلسلا , adapun ketika waqaf maka dengan diganti Alif. Wallahu a'lam...

Sab'aty : Taghlidh Al Laam (Lam Tebal) Versi Sab'aty

Taglidz Al-Laam (Lam yang dibaca tebal) versi Sab'aty Lafadzh Lam Jalalah (ALLAH), dibagi dalam 2 kategori: •Dibaca tebal/ tafhim bila lafad ALLAH-nya didahului huruf yang berharokat dhumah atau fathah •Dibaca tipis/ tarqiq bila lafad ALLAH-nya didahului huruf yang berharokat kasroh. demikian ini berlaku bagi semua imam qiraat dalam qiraat 7. namun, ada huruf Laam yang berbeda dengan 2 kategori diatas, yaitu Laam yang dibaca tebal sebagaimana bunyi tebalnya dalam lafdzul Jalalah tadi,tapi khusus dalam bacaan qiraat riwayat Warsy dari Nafi', yaitu dengan menebalkan uruf Lam yang apabila sebelumnya ada uruf Shad, Tha dan Dha ( ص , ط , ظ ) yang apabila sebelumnya ada harakat fathah atau sukun.

Sab'aty : Bacaan Gharib Versi Sab'aty Qira'at Sab'ah

Gharib Sab’aty (Cara Praktis Belajar Qiraat Sab’ah Hanya 7 Jam) Memfathah atau mendhummah Huruf Dhad… Dalam al-Qur’an ada lafazh serupa yang diulang tiga kali dalam satu ayat yaitu ضعْف (QS. al-Ruum:54). Kata tersebut adalah masdar dari ضعُف – يضعَف .  Para ulama qira’ah tujuh berbeda dalam membaca harakat dhad, Imam Hafash, Imam Hamzah dan syu’bah memfathahkan huruf dhad dan yang lainnya (Abu Amr, Nafi’, Ibnu Kastir, Ali Al-Kisa’I, Ibnu Amir dan wajah kedua dari Hafsh) membacanya dengan dhummah. Artinya hanya imam Hafash saja yang membaca dengan 2 wajah (fathah dan dhummah). Alasan terjadinya perbedaan itu karena dalam ilmu sharaf, kata ضعُف – يضعَف itu mempunyai dua masdar yaitu ضَعْف dan ضُعْف , sebagaimana yang terjadi pada kata فقر juga mempunyai dua masdar yakni فَقْر dan فُقْر.